RUH DAN JIWA

Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi. Tetapi para ahli sufi membedakan ruh dan jiwa. Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula.

Sabtu, 05 Januari 2008

QALBU, Wujud Ruhani Manusia

PADA suatu hari, musim haji abad ke-2 Hijriyah, Abu Bashir berada di Mesjid Al-Haram. Ia terpesona menyaksikan ribuan orang bergerak thawaf mengelilingi Ka’bah, seraya mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir mereka. Abu Bashir membayangkan, betapa beruntungnya orang-orang itu.

Mereka telah mendapat panggilan Tuhan, tentu mereka semua akan mendapat pahala dan ampunan-Nya. Imam Ja’far al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah satu ulama besar dari keluarga Rasulullah SAW, berkata, “Inginkan kutunjukkan kepadamu siapa mereka?”, lalu Imam Ja’far menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Kemudian Imam Ja’far mengusap wajahnya. Ketika membuka lagi matanya, Abu Bashir terkejut. Di sekitar Ka’bah, ia melihat banyak sekali binatang dalam berbagai jenisnya- mendengus, melolong, mengaum. Imam Ja’far berkata, “Betapa banyaknya lolongan dan teriakan; betapa sedikitnya yang haji.”
Anda boleh jadi tidak begitu saja percaya dengan riwayat atau cerita diatas. Apa yang disaksikan Abu Bashir pertama kali adalah tubuh-tubuh manusia, dan yang dilihat untuk kedua kalinya adalah bentuk ruhani mereka.
Kita adalah makhluk yang hidup di dua alam sekaligus. Tubuh kita hidup di alam fisik, nyata dimana kita bisa melihat dan mencerapnya, kita raba dan rasakan, yang disebut para ulama sebagai alam nasut. Sedangkan ruh kita hidup di alam metafisik (alam malakut). Ruh tidak dapat dilihat oleh mata lahir, karena berada di alam malakut, dan ia adalah bagian dari batiniah kita. Namun, ada sebagian dari kita yang memiliki kemampuan dan melatih mata batin ini sehingga dapat menengok ke alam malakut, melihat ruh dirinya dan orang lain.
Sebagaimana tubuh, ruh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Ruh dapat betul-betul berwujud binatang – babi atau kera. Allah berfirman, “Katakanlah: Apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurka Allah; di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah thogut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah: 60)

Mata Hati dan Mata Bathin
Ketika menjelaskan tentang hati, Imam Al-Ghazali menjelaskan dua macam mata; mata lahir (bashar) dan mata bathin (bashirah). Dengan mata lahir kita bisa melihat wujud lahiriah kita, menyaksikan alam semesta ini. Bentuk lahiriah kita hanyalah penampakan dari bentuk lahir dan bukan bentuk kita sebenarnya, bukan penampilan dari bentuk batiniah kita. Dengan bashirah, kita akan mampu melihat diri kita, wujud kita yang sebenarnya.
Dengan menggunakan istilah Imam Al-Ghazali, bashar hanya dapat melihat khalq (wujud fisik), sedangkan bashirah mampu melihat khuluq (wujud ruhani). Kata khuluq adalah kata jamak dari kata akhlaq, wujud ruhaniah kita. Sedang, Al-Quran menyebut wujud ruhani kita sebagai hati (qalbu). Dan, sebagaimana wujud fisik yang bisa mendapat serangan penyakit, qalbu (ruhani manusia) juga bisa terjangkit penyakit, yakni penyakit ruhani atau penyakit hati (qalbu). “Fi qulubihim marodhun fazaadahumullahu marodhaa”, Di dalam qalbu mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakit itu (QS. 2:10).
Qalb, Fuad & Lub Pandangan tentang “hati”
Qalb mempunya dua makna: qalb dalam bentuk fisik dan qalb dalam bentuk ruh. Dalam arti fisik, qalb dapat kita terjemahkan sebagai “jantung”. Dalam hubungan inilah Nabi SAW bersabda, “Di dalam tubuh itu ada mudghah, ada suatu daging; yang apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah mudghah itu adalah qalb.”
Para mubaligh sering menerjemahkan qalb di sini sebagai “hati”, sehingga mereka berkata, “Kalau hati kita ini bersih maka seluruh tubuh kita bersih” Padahal sebenarnya yang dimaksud di sini adalah hati dalam bentuk jasmani, karena itulah Nabi SAW menyebutnya segumpal daging (mudghah). Sebagaimana jantung memegang peranan dalam kesehatan tubuh kita, hati (qalb dalam arti wujud ruhani) juga memegang peranan yang amat penting dalam kesehatan ruhani kita. “Hati itu bagaikan raja, dan hati itu memiliki bala tentara. Apabila raja itu baik, maka baiklah seluruh bala tentaranya, dan kalau hati itu rusak, maka rusaklah seluruh bala tentaranya” (Kanzul Ummal:1205).
Dalam Mafatih al-Ghaib, Mulla Sadra ketika membahas tentang struktur ruhani manusia membagi klasifikasi qalbu kedalam tiga derajat ; qalb, fuad & lub. Pertama, Qalb, sesuai dengan artinya bolak-balik, tempat bergumulan antara yang haq dan bathil.
Ada juga qalb dalam arti kekuatan ruhaniah yang mampu melakukan peng-idrak-an, memahami, mempersepsi dan mencerapi. Kedua, Fuad, adalah hati yang dapat memaksimalkan fungsi rasional (‘aqal), sebagaimana ucapan Nabi SAW, “Akal itu ada dua, satu di kepala, dan satu di hati”. Ketiga, Lub adalah qalb yang hanya bisa dimasuki oleh cahaya Tuhan, Lub-lah yang menjadi “wadah” Allah SWT di bumi. Lub yang disinari oleh cahaya Tuhan inilah yang mampu menjadikan seorang insan bisa mengembangkan nilai-nilai spiritualnya (aspek ruhaniah) sampai ketingkat maqam malaikat. Imam Ja’far ash-Shadiq juga mengatakan, “Sesungguhnya Allah punya wadah di bumi dan wadah itu adalah hati. Maka sesungguhnya hati yang dicintai oleh Allah adalah hati yang lembut, yang bersih dan yang kokoh.”
Oleh : Syamsu Dharma

Jumat, 28 Desember 2007

Ruh dan Jiwa

Umat Islam memang sudah punya terlalu banyak ilmu tentang manusia dan Tuhan, yang kadang-kadang hasilnya malah membingungkan kita sendiri. Misalnya, kita dengan sangat mudah menemukan buku-buku atau uraian-uraian tentang:
Nur 'alan Nur, Nurullah, Nur Muhammad, Nur insani, Nur'aini
RUH, JIWA, QALBU (HATI), PIKIRAN, AKAL, Nafsul ammarah, Nafsul Lawwamah, Nafsul Muthmainnah. Dan sebagainya.
Akhirnya kita semua bingung-ngung-ngung dibuatnya. Katanya semuanya itu adalah pelajaran dan kajian hakekat. Yang namanya Hakekat itu ya harusnyakan membawa kita kepada kesederhanaan, tidak ruwet dan tidak bingung. Ehh..., belajar hakekat malah kita kok jadi tambah bingung...?.
Belajar Hakekat itu kan artinya adalah untuk sampai kepada pengertian: "Begini lho yang sejatinya..., begini lho yang sederhananya...", dan sebagai hasilnya kita tinggal senyum-senyum saja lagi.
Nah..., semua istilah-istilah diatas itu tadi sebenarnya adalah istilah-istilah dari para profesor dan ilmuan hakekat yang memang telah mencoba menguraikannya sesuai dengan pamahaman beliau-beliau itu sendiri. Jadi boleh jadi uraian beliau-beliau itu hanya cocok dan dimengerti oleh mereka itu sendiri. Tinggallah kita-kita ini melongo dan clingak-clinguk saja dibuatnya dalam kebingungan.
Kalau kita perhatikan di dalam Al Qur’an, sebenarnya hanya ada ALLAH dan ada ALAM SEMESTA. ALLAH adalah MAHA SUMBER, MAHA PENYEBAB dari apapun yang terjadi pada ALAM SEMESTA ini.
Misalnya…, Ada cahaya, maka Allah adalah Sang Pemberi Cahaya (Nurun ‘alan Nur) itu. Jadi Allah bukanlah cahaya itu sendiri. Tapi Dialah Sang Penyala cahaya itu. Ini bisa dicontohkan seperti di dalam sebuah ruangan yang gelap, lalu saya nyalakan sakelar listrik, maka lalu ruangan itu jadi bercahaya dan terang benderang. Saya adalah sang penyala listrik. Karena perbuatan sayalah ruangan gelap itu tadi menjadi bercahaya. Akan tetapi saya tidaklah sama dengan cahaya itu sendiri.
Alam semesta ini adalah gelap gulita yang sempurna. Lalu karena ADA yang punya Cahaya, maka Alam semesta ini lalu menjadi terang benderang. Cahaya yang menerangi itu lalu ada yang mengistilahkannya dengan NURULLAH, CAHAYA TUHAN. Cahaya Tuhan itu seperti apa, ya Nurun ‘alan Nur, cahaya diatas cahaya. Nggak sama dengan cahaya itu sendiri. Seperti sebuah senter, cahaya senter itu ada karena ada yang menghidupan senter itu. Jadi ADA yang diatas senter. Jadi NURULLAH itu seperti APA…?, Ya ndak seperti apa-apa, artinya nggak usah kita pikirkan. Tinggal kita menghadap saja kepada Yang tidak seperti apa-apa itu.
Sedangkan Nur Muhammad, Nur Insani, hanyalah istilah-istilah saja yang dibuat orang. Kalau mau dipakai atau nggak ya terserah kita saja. Toh kita juga nggak tahu persis. Memang ada orang yang dengan berzikir dan bermeditasi bisa menemukan cahaya yang sangat cemerlang. Tapi yang namanya cahaya, yang masih bisa dipersepsikan, namanya ya masih ALAM. Lalu kenapa kita harus berhenti di ALAM…?. Kenapa kita tidak teruskan kesadaran kita kepada Sang Pembuat Alam…?.
Jadi pada tingkatan MAKRO KOSMOS, ada ALLAH dan ada ALAM. Sebutlah alam apa saja, maka alam itu PASTI BERSANDAR kepada Allah. Alam itu DILIPUTI oleh DZAT ALLAH. Makanya ALAM itu disebut juga sebagai AYAT, TANDA-TANDA adanya ALLAH. Banyak orang yang hanya terpesona dengan tanda-tanda Allah, banyak juga orang yang sibuk hanya dengan ayat-ayat Allah itu, namun mereka tidak mampu meningkatkan kesadaran mereka akan tempat bersandarnya alam itu, yaitu Allah. Makanya orang yang tidak mampu meningkatkan kesadarannya kepada ALLAH hanya karena tertahan oleh tanda-tanda, ayat-ayat Allah itu disebut sebagai orang yang TERCOVER, TERHIJAB, atau dalam bahasa Arabnya KAFIR.
Seorang ilmuan (dalam bidang apa saja) yang yang asyik dengan segala tanda-tanda Allah yang dia amati tanpa dia mampu untuk menyadari Allah, maka ilmuan tersebut disebut juga sebagai ilmuan tercover. Jadi gampang sekali kok untuk berada dalam wilayah ketercoveran itu.
Makanya Al Qur’an surat Ali Imran ayat 190-191 menjelaskan ciri dari ilmuan hakiki (sebenarnya) yang disebut sebagai ULUL ALBAB yang intinya adalah: “Ilmuan tersebut sadar kepada Allah yang punya seribu satu tanda-tanda dan ayat-ayat, lalu dia amati dan pelajari tanda-tanda itu, dan menemukan hasil yang bermanfaat atas tanda-tanda itu, dan kemudian dia kembali mengangkat kesadarannya bahwa semua itu adalah karena ada ALLAH”. Karena kita kembali menyandarkan kesadaran kita kepada Allah, maka pemanfaatan hasil pengamatan itu pastilah sama dengan kehendak Allah. Jadi bukan lagi hanya atas kehendak atau dorongan nafsu (hawa un nafs).
Kemudian pada diri manusia, sebenarnya hanya ada RUH dan NAFS.
RUH adalah wujud yang suci milik Allah, dari Allah yang kemudian dipanggil oleh Allah sebagai RUH-KU. Seyogyanya, seharusnya RUH inilah yang bertindak sebagai KUSIR, sebagai PENGENDALI atas NAFS. Sang Kusir ini dipanggil dengan berbagai Nama: yaitu BASHIRAH, AKU, RUH, RUH (milik) TUHAN. Dan mengenai RUH ini hanyalah Allah sang empunya saja yang TAHU dengan pasti. Kita hanya diberi tahu sedikit sekali. Ayatnya juga hanya 10 ayat (saya belum ngeceknya).
Sedangkan NAFS adalah INSTRUMEN (ALAT) tempat Sang AKU berkreasi, melihat, mendengar, berfikir, merasa, berkembang biak, dan sebagainya, termasuk sifat-sifatnya juga. NAFS ini juga dipanggil dengan berbagai julukan. Misalnya, si Qalbu, si HATI yang artinya si bolak balik. Bisa juga dipanggil Si Jiwa yang diambil dari bahasa sansekerta. Atau dipanggil dengan Si Tubuh dengan seluruh bagian-bagiannya. Semua panggilan-panggilan itu ya mengarah ke NAFS juga.
Lalu…, SIFAT NAFS yang terbolak-balik disebut juga HATI (QALB). Nafs yang masih selalu bergejolak dipanggil sebagai NAFSUL AMMARAH. Sedang Nafs yang selalu bolak-balik (bersifat QALBU) disebut juga NAFSUL LAWWAMAH (kadang baik, kadang buruk, kadang menyesal). Kemudian…, Nafs yang sudah tidak bergejolak, yang sudah tenang, luas, damai, dan bahagia disebut juga sebagai NAFSUL MUTHMAINNAH.
Karena yang disiksa, yang masuk neraka, yang bahagia, dan yang masuk syurga adalah Sang NAFS ini, ayatnya juga sangat banyak di dalam Al Qur’an.
Nah…, saat NAFS yang masih bergejolak (AMMARAH), dan termasuk juga yang masih bolak-balik (LAWWAAMAH) MENGAKU, SOMBONG, ANGKUH, maka saat itu pulalah akan timbul berbagai penderitaan dan siksa pada manusia itu sendiri maupun bagi orang lain. Siksa itu tidak hanya didunia ini akan tetapi juga akan mengalir sampai ke akhirat.
Akan tetapi tatkala Sang NAFS sudah berada pada sifat TIDAK BERGEJOLAK, artinya sudah tenang, damai, luas, lapang, bahagia, maka Sang NAFS disebut juga sudah berada dalam kesadaran RUH. Jadi NAFSUL MUTHMAIINNAH itu adalah NAFS yang sudah berada pada KESADARAN RUH. Kesadaran MAKRO KOSMOS. Atau disebut juga dengan NUR INSANI. Makanya Sang Nafsul Muthmainnah ini tidak akan pernah berada dalam posisi kesombongan, keangkuhan sedikitpun. Sang Nafs sudah tidak mengaku-ngaku lagi, karena Sang Nafs menyandarkan pengakuannya semata-mata kepada Allah.
NAFS yang sudah berada pada KESADARAN RUH akan selalu BERKATA dengan PENUH SADAR (BUKAN NGELINDUR), bahwa :
Aku melihat…, Oooo…, melihat-ku ini adalah anugerah dari Allah…!.
Aku mendengar…, Oooo…, mendengar-ku ini adalah anugerah dari Allah…!.
Aku tahu…, Oooo…, tahu-ku ini adalah anugerah dari Allah…!.
Aku bisa…, Oooo…, bisa-ku ini adalah anugerah dari Allah
Aku berhasil…, Oooo…, berhasil-ku ini adalah anugerah dari Allah…!.
Aku gagal…, Oooo…, gagal-ku ini adalah atas perkenan Allah juga…!.
Aku punya…, Oooo…, punya-ku ini adalah anugerah dari Allah…!.
Karena sudah tidak ada lagi yang diaku, disombongkan, diangkuhkan, ia…, sang Nafs sudah tidak akan tersiksa maupun eforia lagi saat sakit maupun senang. Apanya yang akan disiksa wong sang Nafs sudah nggak mengaku punya apa-apa lagi.
Kalau kita sudah begini…, maka untuk bertindak, untuk beramal, untuk menjalankan fungsi kekhalifahan kita di muka bumi ini sudah enak dan ringan sekali. Kita tinggal bersandar saja kepada ALLAH, YANG PUNYA semua daya, semua tahu, semua bisa, semua punya tadi, untuk menerima daya, tahu, bisa, dan punya tadi yang akan kita pakai dalam kegiatan keseharian kita.
Akan tetapi….,begitu Sang Nafs yang sudah tenang itu tadi sombong dan mengaku-ngaku, maka seketika itu juga siksa yang muncul akan sangat besar dan pedih sekali.
http://irdy74.multiply.com/recipes/item/10

Kamis, 27 Desember 2007

Keterangan Mengenai Jiwa Dan Ruh Insani

Ketahuilah bahawa Allah Taala menjadikan manusia ini terdiri daripada dua suatu yang berbeza iaitu:

Jisim yang gelap, tebal, termasuk di bawah kejadian dan kebinasaan (Al-Kun Wal-Fasad) yang tersusun, bersifat ketanahan yang tidak dapat melaksanakan urusannya melainkan dengan yang lain.

Jiwa Jauhari yang tunggal yang bercahaya, mencapai, bertindak lagi menggerakkan dan menyempurnakan alat-alat (alat-alat dalam badan manusia baik yang bersifat ruhaniah seperti Ruh Haiwani, Ruh Tobie dan lain-lain atau bersifat jasmaniah seperti otak dan bahagian-bahagiannya dan lain-lainnya.
Allah Taala menyusun jasad-jasad dari bahagian-bahagian makanan dan menjaganya dengan bahagian-bahagian zat makanan yang lebur menyerap ke dalam jasad, menyediakan asas, menyempurnakan anggota-anggota penting, menentukan anggota-anggota kaki dan tangan dan melahirkan jauhar jiwa dari urusan yang tunggal, sempurna menyempurna lagi memberi faedah.

Bukanlah saya(Imam Ghazali) maksudkan 'jiwa' itu kekuatan untuk mendapatkan makanan;

bukan kekuatan yang menggerakkan syahwat (Al-Nafsu) dan kemarahan;
bukan kekuatan yang berada dalam jantung(Al-Kolbu) yang melahirkan hidup, menimbulkan rasa dan gerak dari jantung kepada seluruh anggota, kerana kekutan ini dinamakan 'Ruh Haiwani'.
Rasa, gerak, syahwat adalah dari tentera Ruh Haiwani ini.

Kekuatan mendapatkan makanan yang berada dan menguruskan dalam hati(Al-Kabad) dinamakan 'Ruh Tobie.' Pencernaan dan penolakan adalah daripada sifat-sifatnya. Kekuatan merupa, melahir, menyubur dan lain-lain kekuatan tobie semuanya menjadi khadam-khadam bagi jasad dan jasad pula adalah khadam kepada Ruh Haiwani, kerana jasad menerima kekuatan-kekuatan dari Ruh Haiwani dan bekerja menurut geraknya.

Sebenarnya yang saya maksudkan dengan 'JIWA' itu ialah JAUHAR YANG SEMPURNA LAGI TUNGGAL (Al-Jauhar Al-Kamil Al-Mufrad) yang kerjanya hanya

mengingat
menghafaz
memikir membeza dan
mengamat-amati; juga
menerima segala ilmu dan
tidak jemu-jemu menerima rupa-rupa abstrak yang bersih dari benda.
Jauhar ini adalah ketua segala ruh dan raja. Segala kekuatan semuanya berkhidmat kepada jauhar ini dan menjunjung perintahnya. Jauhar ini tidak lain tidak bukan dari JIWA BERAKAL (Al-Nafs An-Naathokoh) yang diberikan berbagai-bagai nama. Para ahli falsafah menamakan jauhar ini sebagai JIWA BERAKAL(Al-Naf An-Naathokah).Al-Quran menamakannya sebagai JIWA YANG TENANG(Al-Nafsul Mutomainnah). Al-Quran juga menamakannya sebagai RUH URUSAN (Al-Ruh Al-Amri). Ahli Tasauf menamakannya sebagai QALBU(Al-Qalbi). Perbezaan cuma pada segi nama-nama sahaja tetapi ertinya satu, tidak ada perselisihan. Oleh itu 'QALBU' dan 'RUH' pada kita juga 'YANG TENANG' semua nama-nama itu adalah bagi 'JIWA BERAKAL' (Al-Nafs Al-Naathokoh). Jiwa berakal ialah 'Jauhar yang Hidup', 'aktif', lagi mencapai kalau disebut Ruh Mutlak atau Qalbu. Maksudnya ialah jauhar ini juga.

Ahli-ahli Tasauf menamakan 'Ruh Haiwani' pula dengan nafsu. Syarak juga memberikan pengertian yang sama sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud:

"Musuh engkau yang paling ketat ialah nafsu engkau".

Baginda bersabda lagi dengan maksud:

"Nafsu engkau ialah yang terletak di antara dua pihak".

Perkataan nafsu yang dimaksudkan oleh syarak di sini ialah kekuatan 'syahwaaniah' dan kemarahan kerana kedua-duanya muncul dari jantung yang terletak di antara dua pihak(dari tubuh manusia).

Bila kamu telah faham dan mengetahui perbezaan nama-nama itu ternyatalah bahawa para pengkaji memberikan nama yang bermacam-macam terhadap Jauhar yang bernilai ini dan mengemukakan pendapat-pendapat yang berbeza. Para ahli Ilmu Kalam yang pandai dalam debat menganggap jiwa itu sebagai suatu jisim dan menyatakan bahawa ia adalah jisim yang halus sebagai tantangan bagi jisim yang tebal ini. Mereka hanya melihat perbezaan di antara ruh dan jasad dari segi kehalusan dan ketebalan sahaja.

Sebahagian dari mereka menganggap ruh sebagi 'aradh. Sebahagian daripada ahli-ahli kedoktoran cenderung ke arah pendapat ini. Ada pula yang menganggap darah sebagai ruh.

Mereka semua merasa puas hati dengan pendapat mereka kerana dipengaruhi oleh kecantikkan pandangan dan mereka 'TIDAK BERUSAHA' mencari bahagian ketiga sedangkan sebenarnya ada tiga bahagi iaitu Jisim, Aradh dan 'Al-Jauhar-Al-Mufrad'. Ruh Haiwani ialah jisim yang halus seolah-olah lampu bernyala terletak dalam kaca jantung. Jantung yang dimaksudkan di sini ialah rangka sanubari yang tergantung pada dada manusia. Hidup adalah lampu tersebut,

Darah ialah minyaknya,
Rasa dan gerak merupakan nurnya,
Syhwat ialah kepanasannya,
Kemarahan ialah wapnya,
Kekuatan mencari makanan yang berada di dalam hati merupakan khadam atau penjaganya dan wakilnya.
Ruh ini terdapat pada segala binatang. Ruh ini tidak menerima ilmu dan tidak mengetahi soal yang berhubung dengan alam dan tidak mengetahui hak-hak Pencipta Alam. Ia hanya merupakan khadam yang terikat. Ia mati bersama dengan matinya badan. Jika bertambah darah, padam lampu itu kerana bertambah kepanasan dan sebaliknya jika berkurangan darah, ia akan padam juga kerana bertambah kesejukan. Padamnya menjadi sebab bagi matinya badan. Tidak ada 'khitob Tuhan' iaitu (perkataan-perkataan Tuhan yang lazim yang dihadapkan kepada orang-orang mukallaf berhubung dengan perbuatan-perbuatan mereka) dan tidak ada 'takhlif' (pemikul tanggungjawab yang diamanahkan dari Allah melalui hukum syarak yang lima) tuan punya syarak terhadap ruh ini. Kerana inilah segala binatang tidak termasuk ke dalam makhluk-makluk yang menerima 'khitob' dengan hukum-hukum syarak.

Manusia sebenarnya 'ditakhlif' dan 'dikhitob' kerana suatu makna yang lain terdapat padanya sebagai suatu tambahan yang dikhaskan untuknya. Maknanya ialah pada manusia ada 'JIWA YANG BERAKAL' (Al-Nafs-An-Naatokoh), 'RUH URUSAN'(Ruhul-Amri) dan 'JIWA YANG TENANG'(Al-Nafsul Muthomainnah).

Ruh ini bukanlah jisim dan bukanlah 'aradh', kerana ia datang dari urusan Allah Taala sebagaimana firmannya yang bermaksud:

'Katakanlah hai Muhammad bahawa Ruh itu adalah urusan Tuhanku.

(Surah Al-Israk ayat 85)

Allah berfirman lagi yang bermaksud:

'Hai Jiwa yang Tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan redho dan diredhoi." (Surah Al-Tahrim ayat 12)

Urusan Allah bukanlah berupa jisim dan bukan pula 'aradh', malahan ia adalah suatu kekuatan 'ILAHIYAH' seperti 'AKAL YANG PERTAMA' (Al-'Aklul-Awal), Luh dan Qalam. Kekuatan Ilahiyah adalah Jauhar-Jauhar Tunggal yang bukan dari benda, malah ia merupakan sinar-sinar abstrak yang dapat difahami oleh akal (Ma'quulah). Bukan boleh dirasa. Apa yang kita sebut sebagai ruh dan Qalbu adalah dari Jauhar-Jauhar itu. Ia

tidak rosak
tidak layu
tidak binasa
tidak mati bahkan;
ia terpisah dari badan dan menantikan perkembaliaan pada hari kiamat
sebagaimana yang dinyatakan dalam syarak dan telah disahkan dalam ilmu-ilmu 'HIKMIAH' (Falsafah) dengan alasan-alasan yang tidak dapat ditolak lagi. Buktinya yang nyata menunjukkan bahawa 'RUH YANG BERAKAL' bukanlah jisim dan bukanlah 'aradh, malah ia adalah JAUHAR yang sabit(nyata) lagi kekal tiada binasa. Di sini rasanya tidak perlu lagi kita menyebut alasan-alasan dan membentangkan dalil-dalil kerana telah dibuat dan disebut orang. Sesiapa yang mahu mengesahkannya silalah tatap kitab-kitab yang baik mengenai ilmu ini. Cara kita memberi huraian dalam risalah ini bukanlah dengan mengemukakan alasan, malah dengan berpegang pada apa yang telah dialami menerusi 'PENGLIHATAN YANG YAKIN DAN PENGLIHATAN IMAM.' Allah Taala ada menghubungkan ruh kepada urusan dan kadang-kadang kepada 'IZAH'Nya(zat yang tiada boleh dicapai dengan akal dan fikiran) dengan firmanNya yang bermaksud:

'Dan Aku(Allah) tiupkan padanya ruh dariKU' (Surah Al-Hijr ayat 39).

dan firmanNya lagi yang bermaksud:

'Katakanlah (hai Muhammad) bahawa roh itu adalah urusan tuhanku' (Al-Israk ayat 85)

dan firmanNya lagi yang bermaksud:

'Lalu kami tiupkan padanya dari roh kami.'(Surah Al-Tahrim ayat 12)

Bila roh itu dihubungkan oleh Allah Taala kepada diriNya tentulah ia bukan jisim atau A'radh kerana rendah tingkat kedua-duanya, selalu berubah-ubah dan cepat hilang serta akan rosak. Rasulullah S.W.T. bersabda yang bermaksud:

"Roh-roh adalah sebagai tentera yang lengkap"

dan dalam sabda Baginda yang lain lagi Beliau menyatakan:

"Roh para syuhadah terletak dalam bayang-bayang burung-burung hijau."

Begitu juga dengan A'radh tidak kekal selepas hilangnya jauhar kerana A'radh tidak boleh berdiri dengan zatnya sendiri. Manakala jisim menerima peleburan kembali sebagaimana asalnya sebelum penyusunan dari benda (Al Madah) dan rupa seperti yang tersebut dalam kitab-kitab (kitab-kitab falsafah).

Setelah kita mengetahui ayat-ayat, hadis-hadis dan alasan-alasan akal, ketahuilah kita bahawa ruh itu adalah JAUHAR MUFRAD YANG SEMPURNA (Al-Jauharul Mufrad Al-Kamil) hidup dengan zatnya, baik dan buruknya agama adalah datang daripadanya, manakala ruh Tobie dan Ruh Haiwani dan kekuatan badaniah seluruhnya daripada tentara Jauhar Mufrad Yang Sempurna ini.

Jauhar ini menerima rupa-rupa maklumat dan hakikat maujudah (sesuatu yang wujud di alam ini) dengan tidak diganggui oleh ain-ain dan peribadinya kerana jiwa berkuasa mengetahui hakikat manusia tanpa melihat peribadi (manusia) itu sendiri; begitu juga ia mengetahui malaikat dan syaitan-syaitan dengan tidak perlu melihat peribadi-peribadi mereka. Ini adalah kerana kedua-dua jenis makhluk itu tiada dapat dicapai oleh deria-deria kebanyakan orang.

Satu golongan ahli tasauf berkata bahawa ' Qalbu ' mempunyai dua mata, serupa juga dengan dua mata bagi jasad ini. Jasad dapat melihat benda-benda yang zahir dengan mata-mata zahir dan Qalbu melihat hakikat dengan mata akal. Rasulullah S.W.T. bersabda yang bermaksud:

'Tiada ada seorang hambapun melainkan Qalbunya mestilah mempunyai dua mata.'

Dengan kedua-dua mata ini dapatlah dicapai apa yang ghaib. Bila Allah Taala hendak memberikan kebaikan kepada hambanya, ia bukakan dua mata Qalbunya supaya dapat melihat sesuatu yang ghaib dari pemandangan mata lahirnya. Roh ini tidaklah mati dengan matinya badan kerana Allah Taala menyerunya supaya kembali kepadaNya dengan firmanNya yang bermaksud:

'Kembalilah kepada Tuhanmua' (Surah Al Fajr Ayat 28).

Sebenarnya ruh ini hanya bercerai dan berpaling dari badan. Oleh kerana berpaling ini maka kakulah segala yang bersangkut dengan kekuatan-kekuatan Haiwaniah dan Tabii'yah. Maka diamlah yang bergerak itu dan dikatakan kepada yang diam itu, ialah MATI.

Ahli-ahli Thorikat atau ahli Tasauf lebih banyak berpegang pada roh dan Qalbu dari berpegang pada peribadi. Apabila roh itu dari urusan Allah Taala, maka beradanya dalam badan adalah sebagai orang dagang. Mukanya mengarah pada asalnya dan tempat datangnya. Ia dapat mengambil faedah-faedah dari pihak asalnya lebih banyak dari apa yang ia dapat dari pihak peribadi bila ruh itu kuat dan tidak dikotori oleh kekotoran-kekotoran tabiat.

Bila anda mengetahui ruh adalah Jauhar Mufrad dan mengetahui pula jasad memerlukan ruang dan A'Radh maka selain dari ini tidak ada lagi melainkan Jauhar. Ketahuilah bahawa Jauhar ini tidak menempati pada sesuatu tempat dan tidak mendiami pada sesuatu ruang. Bukanlah badan adalah ruang bagi ruh dan bukan pula tempat bagi Qalbu malahan badan adalah alat ruh, alat Qalbu dan kenderaan jiwa. Zat ruh sendiri tidak bersambung dengan bahagian-bahagian badan dan tidak berpisah daripadanya bahkan ia menhadap kepada badan, memberi faedah dan melimpah kepadanya.

Mula-mula lahir nur ruh pada otak kerana otak tempat kenyataan yang khas.

Pada bahagian depannya ia menjadi penjaga
Pada bahagian tengahnya ia menjadi menteri dan pentadbir
Pada bahagian belakangnya ia menjadi perbendaharaan. Ahli perbendaharaan dan seluruh bahagian manjadi kakitangan dan kenderaan
Roh Haiwani menjadi khadam
Roh Tobie menjadi wakil
Badan menjadi kenderaan
Dunia menjadi medan
Hayat menjadi barang (modal)
Gerak menjadi perniagaan
Ilmu menjadi keuntungan
Hari akhirat menjadi matlamat dan tempat pulang
Syarak menjadi jalan dan cara
Terhadap jiwa pendorong kejahatan (nafsu Amarah) menjadi penjaga dan pemerhati
Terhadap jiwa pengkritik (nafsu Lawamah) ia menjadi penyedar.
Pancaindera menjadi pengikut-pengikut dan pembantu.
Agama menjadi penghalang
Akal menjadi mahaguru
Rasa pancaindera menjadi murid
Ar-Robh (Allah) menjadi pemerhati
Jiwa dengan sifat-sifat ini bersama dengan alat-alat ini tidak mengarah kepada peribadi yang tebal ini dan tidak berhubung dengan zatnya, malahan ia mengarah kepada Tuhannya dan Tuhannya memerintahkannya supaya mengambil kesempatan mendapatkan sesuatu yang berguna hingga kepada satu tempoh yang tertentu.

Oleh itu ruh tidaklah menumpukan pemerhatian ke arah memikirkan yang lain dalam masa perjalanan (hidup di atas dunia) ini, melainkan berusaha mencari ilmu untuk menjadi perhiasan di dalam negeri akhirat. Ini adalah kerana perhiasan harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia sahaja sebagaimana mata menumpukan pemerhatian ke arah mendengar suara-suara, lidah siap sedia untuk menyusun kata-kata, Ruh Haiwani tunduk kepada keenakkan marah, Ruh Tobie cintakan kelazatam makan dan minum, maka ruh yang tenang (AL-Ruh Al-Muthomainnah) ertinya Qalbu tidak menghendaki apa-apa selain daripada ilmu dan tidak gemarkan sesuatupun selain daripada ilmu. Ia belajar dan belajar sepanjang usianya. Ia menghiasi dirinya dengan ilmu dalam seluruh zaman hingga waktu bercerainya dari badan. Jika ia menerima sesuatu yang lain daripada ilmu, maka penerimaannya ini cuma untuk kepentingan badan, bukan untuk kepentingan dirinya dan kecintaan asalnya. Bila anda telah mengetahui hal ehwal ruh, kekalannya yang berterusan, kecintaannya dan pemerhatiannya kepada ilmu maka patutlah anda mengetahui pula tentang jenis-jenis ilmu.

Selasa, 25 Desember 2007

MAKRIFAT KEPADA ALLAH

Makrifat kepada Allah swt. adalah makrifat yang seluhur-luhurnya, bahkan yang semulia-mulianya sebab makrifat kepada Allah Taala itulah yang merupakan asas atau fundamen berdirinya segala kehidupan kerohanian. Dari makrifat kepada Allah itulah bercabang makrifat kepada para nabi dan rasul serta hal-hal yang berhubungan dengannya, mengenai kemaksuman, tugas-tugas dan sifat-sifatnya serta hajat umat manusia terhadap diutusnya para nabi, juga yang dimasukkan sebagai persoalan yang erat hubungannya dengan para nabi dan rasul seperti masalah mukjizat, kewalian, kekeramatan dan kitab-kitab suci yang diturunkan dari langit.

Bahkan dari makrifat kepada Allah Taala itu juga bercabang makrifat dengan alam yang ada di balik alam semesta ini, seperti malaikat jin dan ruh. Juga dari makrifat kepada Allah itu pulalah timbul makrifat perihal apa yang akan terjadi setelah kehidupan di dunia ini berakhir, juga mengenai kehidupan di alam barzakh, kehidupan di alam akhirat yang berupa kebangkitan kembali dari kubur, hisab (perhitungan amal), pahala, siksa, surga dan neraka.

CARA BERMAKRIFAT

Untuk bermakrifat kepada Allah swt. mempunyai dua cara, yaitu:

Pertama: Dengan menggunakan akal pikiran dan memeriksa secara teliti ciptaan Allah Taala yang berupa benda-benda yang beraneka ragam ini.

Kedua: Dengan mengetahui nama-nama Allah Taala serta sifat-sifat-Nya.

Dengan menggunakan akal pikiran dari satu sudut dan dengan memakrifati nama-nama serta sifat-sifat Allah dari sudut lain, seseorang akan dapat bermakrifat kepada Tuhan dan ia akan memperoleh petunjuk ke arah itu.

BERMAKRIFAT LEWAT PIKIRAN

Setiap anggota tentu ada tugasnya, tugas akal ialah merenung, memeriksa, memikirkan dan mengamati. Jika kekuatan semacam ini menganggur maka hilang pulalah pekerjaan akal, juga menganggurlah tugasnya yang terpenting dan ini pasti akan diikuti oleh terhentinya kegiatan hidup. Jika ini sudah terjadi, akan menyebabkan pula adanya kebekuan, kematian dan kerusakan akal itu sendiri. Agama Islam menghendaki agar akal bergerak dan melepaskan kekangannya segera bangun dari tidur nyenyaknya kemudian mengajak untuk mengadakan perenungan dan pemikiran. Pekerjaan yang sedemikian ini termasuk inti peribadatan kepada Tuhan. Allah Taala berfirman, “Katakanlah! ‘Perhatikanlah olehmu semua apa-apa yang ada di langit dan bumi." (Q.S. Yunus:101)

Allah Taala berfirman pula, “Katakanlah! ‘Aku hanya hendak mengajarkan kepadamu semua satu perkara saja yaitu hendaklah kamu semua berdiri di hadapan Allah, dua-dua orang atau seorang-seorang, kemudian berpikirlah kamu semua (gunakanlah akal pikiranmu)’" (Q.S. Saba:46)

Barangsiapa yang mengingkari kenikmatan akal dan tidak suka menggunakannya untuk sesuatu yang semestinya dikerjakan oleh akal, melalaikan ayat-ayat dan bukti-bukti tentang wujud dan kekuasaan Allah Taala, maka orang semacam itulah yang patut sekali mendapat cemoohan dan hinaan. Malah Allah Taala sendiri telah mencela sekali orang semacam itu dengan firman-Nya, “Alangkah banyaknya ayat (tanda kekuasaan Tuhan) di langit dan di bumi yang mereka lalui, tetapi mereka itu semua membelakanginya saja (tidak memperhatikannya).” (Q.S. Yusuf:105)

Allah Taala berfirman pula, “Tidaklah datang kepada mereka itu suatu ayat dari beberapa ayat Allah melainkan mereka itu membelakanginya saja (tidak memperhatikannya).” (Q.S. Yasin:46)

Menganggurkan akal dari tugas utamanya, akan menurunkan manusia itu sendiri ke suatu taraf yang lebih rendah dan lebih hina dari taraf binatang. Keadaan seperti itulah yang merupakan penghalang besar bagi umat yang dahulu untuk langsung menembus kepada hakikat-hakikat yang ada di dalam diri, jiwa dan alam semesta.

Allah Taala berfirman, “Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam itu kebanyakan dari jin dan manusia, yang mempunyai hati, tetapi tidak mengerti dengan hatinya, mempunyai mata tetapi tidak melihat dengan matanya dan mempunyai telinga tetapi tidak mendengarkan dengan telinganya. Orang-orang itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat. Itulah orang-orang yang lalai (dari kebenaran).” (Q.S. Al-A’raf:179)

TAKLID ADALAH PENUTUP AKAL PIKIRAN

Taklid adalah penghalang besar terhadap kemerdekaan akal, kekang utama terhadap kebebasan berpikir. Oleh sebab itu, Allah Taala memuji sekali orang-orang yang dapat menjernihkan hakikat sesuatu menyisihkannya dari benda-benda lain, membedakan dan memurnikan benda-benda itu setelah dibahas, diperiksa, diteliti dan disaring oleh akal pikirannya, selanjutnya mengambil mana yang dianggap terbaik dan meninggalkan yang lain. Allah Taala berfirman, “Maka berikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan ucapan lalu mengikuti mana-mana yang terbaik dari ucapan itu. Mereka itulah orang-orung yang memperoleh petunjuk Allah dan mereka itu pulalah arang-orang yang mempunyai akal pikiran.” (Q.S. Az-Zumar:17-18)

Allah Taala benar-benar mencela dan mengejek serta menyalahkan orang-orang yang suka mengekor dan mengikuti, yakni ahli taklid yang tidak suka menggunakan akal pikirannya sendiri. Mereka hanya mengikuti akal orang lain. Mereka betul-betul pasif sebab hanya mengikuti alam pikiran kuno yang sudah terbiasa dan berlangsung sejak dulu di sekitarnya sekalipun yang baru itu sebenarnya lebih tepat, lebih cocok lebih sesuai dan lebih dapat dipertanggungjawabkan karena sejalan dengan petunjuk dari Tuhan. Allah Taala berfirman, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah!’ Mereka lalu berkata, ‘Tidak, kita hanya mengikuti apa yang telah kita dapati dari ayah-ayah kita,’ padahal ayah-ayah mereka itu tidak mengerti sedikit pun dan tidak pula mengikuti petunjuk yang benar.” (Q.S. Al-Baqarah:170)

BIDANG-BIDANG PEMIKIRAN

Agama Islam mengajak seluruh umat manusia supaya berpikir dan menggunakan akal, dengan anjuran yang demikian hebat. Tetapi yang dikehendaki bukanlah pemikiran secara tidak terkendalikan lagi kebebasannya. Semua itu dimaksudkan oleh Islam agar dilakukan dalam batas yang tertentu yang memang merupakan lapangan bagi manusia dan yang dapat dicapai oleh akal manusia itu. Maka yang dianjurkan oleh Islam untuk dipikirkan ialah dalam hal ciptaan Allah Taala yakni apa-apa yang ada di langit, di bumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat manusia dan lain-lain. Tidak ada pemikiran yang dilarang, melainkan memikirkan zat Allah swt., sebab soal yang satu ini pasti di luar kekuatan akal pikiran manusia.

Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda, “Berpikirlah kamu semua perihal makhluk Allah (apa-apa yang diciptakan oleh Allah) dan janganlah kamu sekalian berpikir mengenai zat Allah, sebab sesungguhnya kamu semua sudah tentu tidak dapat mencapai keadaan hakikatnya.”

Diriwayatkan oleh Abu Naim dalam kitab “Alhilyah" dengan sanad daif tetapi isi dan maknanya sahih. Alquran sendiri penuh dengan beratus-ratus ayat (bukti dan tanda) yang mengajak kita semua untuk merenungkan keadaan alam semesta yang terbuka lebar dan luas di hadapan kita ini, beserta cakrawalanya yang tiada terbatas oleh suatu apa pun karena sangat besarnya dan tidak ada ujung pangkalnya. Allah Taala berfirman, “Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu semua, agar supaya kamu suka berpikir tentang dunia dan akhirat.” (Q.S. Al-Baqarah:219-220)

Alangkah luas dan lebarnya dunia yang diperintah oleh Islam untuk dipikirkan itu, tetapi sedemikian luasnya masih belum memadai sedikit pun dari keluasan yang terdapat di dalam alam akhirat.

TUJUAN PEMIKIRAN
Di antara tujuan utama yang dikehendaki oleh Islam dalam memerintahkan berpikir ialah untuk membangunkan akal dan menggunakan tugasnya dalam berpikir merenungkan dan menyelidiki, dengan demikian akan manusia akan sampai kepada petunjuk yang memberikan penerangan sejelas-jelasnya mengenai peraturan-peraturan kehidupan, sebab-sebab wujud alam semesta, tabiat-tabiat keadaan dan hakikat-hakikat segala sesuatu benda. Manakala hal-hal itu sudah terlaksana dengan baik, tentu akan dapat merupakan cahaya terang untuk menyingkap persoalan siapa yang sebenarnya menjadi maha pencipta dan pembentuk semuanya itu. Selanjutnya setelah ini diperoleh maka dengan perlahan-lahan akan dicapai hakikat yang terbesar yaitu bermakrifat kepada Allah Taala. Jadi kemakrifatan kepada Allah Taala yang sesungguhnya merupakan buah atau natijah daripada akal pikiran yang cerdik dan bergerak terus, juga sebagai hasil dari usaha pemikiran yang mendalam serta disinari oleh cahaya yang terang-benderang.

Inilah salah satu perantaraan yang digunakan oleh Alquran untuk memberikan pembuktian tentang Allah Taala. Alquran telah mendorong akal pikiran manusia dengan mengemukakan ayat-ayat tentang ilmu alam yang menjelaskan segala isi dalam dunia semesta ini dengan menggunakan hasil dari pemikiran itu nanti akan terciptalah kemakrifatan kepada Allah Taala. Kemakrifatan ini terdiri dari hal-hal seperti mengenal kesempurnaan sifat-sifat-Nya, keagungan hal-ihwal-Nya, kenyataan dari kebesaran dan keluhuran-Nya, bukti kesucian-Nya, kelengkapan ilmu-Nya, kelangsungan kekuasaan-Nya dan keesaan-Nya dalam hal menciptakan dan membuat yang baru. Marilah kita semua renungkan baik-baik dalam kalbu dan pikiran kita makna dan ayat-ayat yang tercantum di bawah ini.

“Katakanlah! ‘Segenap puji adalah bagi Allah dan keselamatan untuk hamba-hamba-Nya yang dipilih oleh-Nya. Adakah Allah itu yang lebih baik, ataukah yang mereka persekutukan dengan Allah itu yang lebih baik? Atau siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit kepadamu semua kemudian Kami (Allah) menumbuhkan dengan sebab air tadi kebun-kebun yang indah permai. Kamu semua tentu tidak sanggup menumbuhkan pohonnya. Adakah tuhan di samping Allah? Tetapi mereka itu adalah kaum yang berpaling dari kebenaran. Atau siapakah yang menjadikan bumi untuk tempaberdiam dan menjadikan sungai-sungai di tengah-tengahnya, menjadikan gunung-gunung untuk menjadi pasak dan menjadikan batas antara dua lautan? Adakah tuhan di samping Allah? Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang sedemikian itu. Atau siapakah yang memperkenankan permohonan orang yang dipaksa keadaan menderita, apabila memohon kepada-Nya agar menghilangkan penderitaannya itu dan siapakah yang menjadikan kamu semua sebagai khalifah di bumi? Adakah tuhan di samping Allah? Sedikit sekali kamu semua mengingat kepada Allah itu. Atau siapakah yang menunjukkan jalan kepadamu semua dalam kegelapan di lautan dan di daratan? Dan siapakah yang mengirim angin untuk membawa berita gembira sebelum datangnya kerahmatan Allah? Adakah tuhan di samping Allah? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan dengan Allah itu. Atau siapakah yang memulai menciptakan makhluk, kemudian akan mengulanginya kembali? Dan siapakah yang memberikan rezeki kepadamu semua dari langit dan bumi? Adakah tuhan di samping Allah? Katakanlah keterangan (alasan)mu, jika kamu semua memang benar!” (Q.S. An-Naml:59-64)

Pikirkanlah baik-baik, apakah ada suatu keterangan yang lebih jelas dari keterangan yang tertera di atas itu, adakah suatu argumen yang lebih kuat daripada argumen di atas?

Jika akal masih juga tidak suka tunduk kepada keterangan di atas, tidak suka takluk pada argumen itu, maka sungguh ia tidak akan tunduk pada keterangan lain dan tidak pula mau takluk pada hujah mana pun, suatu alamat akal yang sesat dan enggan terhadap petunjuk yang benar.

Allah Taala berfirman, “Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka orang itu pun tidak akan memperoleh cahaya apapun.” (Q.S. An-Nur:40)

Seorang penyair berkata: “Hati nurani manusia itu Pasti tidak akan mampu memperoleh sesuatu apa pun Jika ia tetap menuntut bukti Mengapa waktu siang itu terang benderang.”

BERMAKRIFAT DENGAN MEMAHAMI NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH

Jalan lain dalam mencapai makrifat kepada Allah swt. ialah memahami nama-nama Allah Taala yang baik-baik serta sifat-sifat-Nya yang luhur dan tinggi. Jadi nama-nama dan sifat-sifat itulah yang merupakan perantara yang digunakan oleh Allah Taala agar makhluk-Nya dapat bermakrifat pada-Nya. Inilah yang dapat dianggap sebagai saluran yang dari situ hati manusia dapat mengenal Allah Taala secara spontan. Malah itu pulalah yang dapat menggerakkan cara penemuan yang hakiki dan membuka alam yang amat luas terhadap kerohanian guna menyaksikan cahaya Allah swt.

Nama-nama itu adalah yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Rahman. Mana saja nama Tuhan yang kamu semua seru, Dia adalah mempunyai nama-nama yang baik.’" (Q.S. Al-Isra:110)

Dengan nama-nama itulah yang kita semua diperintah untuk menyerunya. Allah Taala berfirman, “Bagi Allah adalah nama-nama yang baik, maka serulah dengan menggunakan nama-nama itu.” (Q.S. Al-A’raf:180)

Adapun jumlah nama-nama Allah yang baik (asmaul husna) itu ada sembilan puluh sembilan nama. Imam Bukhari, Muslim dan Tirmizi meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barangsiapa menghafalnya ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil (tidak genap) dan cinta sekali pada hal yang ganjil (tidak genap).” (H.R. Ibnu Majah)

Imam Tirmizi memberikan tambahan dalam riwayatnya sebagai berikut, “Sembilan puluh sembilan nama Allah Taala yaitu:

1. Allah: Lafal yang Maha Mulia yang merupakan nama dari zat Ilahi yang Maha Suci serta wajib adanya yang berhak memiliki semua macam pujian dan sanjungan. Adapun nama-nama lain, maka setiap nama itu menunjukkan suatu sifat Tuhan yang tertentu dan oleh sebab itu bolehlah dianggap sebagai sifat bagi lafal yang Maha Mulia ini (yakni Allah) atau boleh dijadikan sebagai kata beritanya.
2. Arrahmaan: Maha Pengasih, pemberi kenikmatan yang agung-agung, pengasih di dunia.
3. Arrahiim: Maha Penyayang, pemberi kenikmatan yang pelik-pelik, penyayang di akhirat.
4. Almalik: Maha Merajai, mengatur kerajaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya sendiri.
5. Alqudduus: Maha Suci, tersuci dari segala cela dan kekurangan.
6. Assalaam: Maha Penyelamat, pemberi keamanan dan kesentosaan pada seluruh makhluk-Nya.
7. Almukmin: Maha Pemelihara keamanan, yakni siapa yang bersalah dari makhluk-Nya itu benar-benar akan diberi siksa, sedang kepada yang taat akan benar-benar dipenuhi janji-Nya dengan pahala yang baik.
8. Almuhaimin: Maha Penjaga, memerintah dan melindungi segala sesuatu.
9. Al’aziiz: Maha Mulia, kuasa dan mampu untuk berbuat sekehendak-Nya.
10. Aljabbaar: Maha Perkasa, mencukupi segala kebutuhan, melangsungkan segala perintah-Nya serta memperbaiki keadaan seluruh hamba-Nya.
11. Almutakabbir: Maha Megah, menyendiri dengan sifat keagungan dan kemegahan-Nya.
12. Alkhaalik: Maha Pencipta, mengadakan seluruh makhluk tanpa asal, juga yang menakdirkan adanya semua itu.
13. Albaari’: Maha Pembuat, mengadakan sesuatu yang bernyawa yang ada asal mulanya.
14. Almushawwir: Maha Pembentuk, memberikan gambaran atau bentuk pada sesuatu yang berbeda dengan lainnya. (Jadi Alkhaalik adalah mengadakan sesuatu yang belum ada asal mulanya atau yang menakdirkan adanya itu. Albaari’ ialah mengeluarkannya dari yang sudah ada asalnya, sedang Almushawwir ialah yang memberinya bentuk yang sesuai dengan keadaan dan keperluannya).
15. Alghaffaar: Maha Pengampun, banyak pemberian maaf-Nya dan menutupi dosa-dosa dan kesalahan.
16. Alqahhaar: Maha Pemaksa, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya serta memaksa segala makhluk menurut kehendak-Nya.
17. Alwahhaab: Maha Pemberi, banyak kenikmatan dan selalu memberi karunia.
18. Arrazzaaq: Maha Pemberi rezeki, membuat berbagai rezeki serta membuat pula sebab-sebab diperolehnya.
19. Alfattaah: Maha Membukakan, yakni membuka gudang penyimpanan rahmat-Nya untuk seluruh hamba-Nya.
20. Al’aliim: Maha Mengetahui, yakni mengetahui segala yang maujud ini dan tidak ada satu benda pun yang tertutup oleh penglihatan-Nya.
21. Alqaabidl: Maha Pencabut, mengambil nyawa atau mempersempit rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
22. Albaasith: Maha Meluaskan, memudahkan terkumpulnya rezeki bagi siapa yang diinginkan oleh-Nya.
23. Alkhaafidl: Maha Menjatuhkan, yakni terhadap orang yang selayaknya dijatuhkan karena akibat kelakuannya sendiri dengan memberinya kehinaan, kerendahan dan siksaan.
24. Arraafi’: Maha Mengangkat, yakni terhadap orang yang selayaknya diangkat kedudukannya karena usahanya yang giat yaitu yang termasuk golongan kaum yang bertakwa.
25. Almu’iz: Maha Pemberi kemuliaan, yakni kepada orang yang berpegang teguh pada agama-Nya dengan memberinya pertolongan dan kemenangan.
26. Almudzil: Maha Pemberi kehinaan, yakni kepada musuh-musuh-Nya dan musuh umat Islam seluruhnya.
27. Assamii’: Maha Mendengar.
28. Albashiir: Maha Melihat.
29. Alhakam: Maha Menetapkan hukum, sebagai hakim yang memutuskan yang tidak seorang pun dapat menolak keputusan-Nya, juga tidak seorang pun yang kuasa merintangi kelangsungan hukum-Nya itu.
30. Al’adl: Maha Adil, serta sangat sempurna dalam keadilan-Nya itu.
31. Allathiif: Maha Halus, yakni mengetahui segala sesuatu yang samar-samar, pelik-pelik dan kecil-kecil.
32. Alkhabiir: Maha Waspada.
33. Alhaliim: Maha Penghiba, penyantun yang tidak tergesa-gesa melakukan kemarahan dan tidak pula gegabah memberikan siksaan.
34. Al’azhiim: Maha Agung, yakni mencapai puncak tertinggi dari keagungan karena bersifat dengan segala macam sifat kebesaran dan kesempurnaan.
35. Alghafuur: Maha Pengampun, banyak pengampunan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.
36. Asysyakuur: Maha Pembalas yakni memberikan balasan yang banyak sekali atas amalan yang kecil dan tidak berarti.
37. Al’aliy: Maha Tinggi, yakni mencapai tingkat yang setinggi-tingginya yang tidak mungkin digambarkan oleh akal pikiran siapa pun dan tidak dapat dipahami oleh otak yang bagaimana pun pandainya.
38. Alkabiir: Maha Besar, yang kebesaran-Nya tidak dapat diikuti oleh pancaindera atau pun akal manusia.
39. Alhafiiz: Maha Pemelihara yakni menjaga segala sesuatu jangan sampai rusak dan goncang. Juga menjaga segala amal perbuatan hamba-hamba-Nya, sehingga tidak akan disia-siakan sedikit pun untuk memberikan balasan-Nya.
40. Almuqiit: Maha Pemberi kecukupan, baik yang berupa makanan tubuh atau pun makanan rohani.
41. Alhasiib: Maha Penjamin, yakni memberikan jaminan kecukupan kepada seluruh hamba-Nya. Juga dapat diartikan Maha Menghisab amalan hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.
42. Aljaliil: Maha Luhur, yang memiliki sifat-sifat keluhuran karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
43. Alkariim: Maha Pemurah, mulia hati dan memberi siapa pun tanpa diminta atau sebagai penggantian dari sesuatu pemberian.
44. Arraqiib: Maha Peneliti, yang mengamat-amati gerak-gerik segala sesuatu dan mengawasinya.
45. Almujiib: Maha Mengabulkan, yang memenuhi permohonan siapa saja yang berdoa pada-Nya.
46. Alwaasi’: Maha Luas, yakni bahwa rahmat-Nya itu merata kepada segala yang maujud dan luas pula ilmu-Nya terhadap segala sesuatu.
47. Alhakiim: Maha Bijaksana yakni memiliki kebijaksanaan yang tertinggi kesempurnaan ilmu-Nya serta kerapian-Nya dalam membuat segala sesuatu.
48. Alwaduud: Maha Pencinta, yang menginginkan segala kebaikan untuk seluruh hamba-Nya dan pula berbuat baik pada mereka itu dalam segala hal-ihwal dan keadaan.
49. Almajiid: Maha Mulia, yakni yang mencapai tingkat teratas dalam hal kemuliaan dan keutamaan.
50. Albaa’its: Maha Membangkitkan, yakni membangkitkan para rasul, membangkitkan semangat dan kemauan, juga membangkitkan orang-orang yang telah mati dari masing-masing kuburnya nanti setelah tibanya hari kiamat.
51. Asysyahiid: Maha Menyaksikan atau Maha Mengetahui keadaan semua makhluk.
52. Alhaq: Maha Haq, Maha Benar yang kekal dan tidak akan berubah sedikit pun.
53. Alwakiil: Maha Memelihara penyerahan, yakni memelihara semua urusan hamba-hamba-Nya dan apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka itu.
54. Alqawiy: Maha Kuat, yaitu yang memiliki kekuasaan yang sesempurna-sempurna.
55. Almatiin: Maha Kokoh atau Perkasa, yakni memiliki keperkasaan yang sudah sampai dipuncaknya.
56. Alwaliy: Maha Melindungi, yakni melindungi serta menertibkan semua kepentingan makhluk-Nya karena kecintaan-Nya yang sangat pada mereka itu dan pemberian pertolongan-Nya yang tidak terbatas pada keperluan mereka.
57. Alhamiid: Maha Terpuji, yang memang sudah selayaknya untuk memperoleh pujian dan sanjungan.
58. Almuhshi: Maha Penghitung, yang tidak satu pun tertutup dari pandangan-Nya dan semua amalan itu pun diperhitungkan sebagaimana wajarnya.
59. Almubdi’: Maha Memulai, yang melahirkan sesuatu yang asalnya tidak ada dan belum maujud.
60. Almu’iid: Maha Mengulangi, yakni menumbuhkan kembali setelah lenyapnya atau setelah rusaknya.
61. Almuhyii: Maha Menghidupkan, yakni memberikan daya kehidupan pada setiap sesuatu yang berhak hidup.
62. Almumiit: Yang Mematikan, yakni mengambil kehidupan (ruh) dari apa-apa yang hidup, lalu disebut mati.
63. Alhay: Maha Hidup, kekal pula hidup-Nya itu.
64. Alqayyuum: Maha Berdiri sendiri, baik Dzat-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya. Juga membuat berdiri apa-apa yang selain Dia. Dengan-Nya pula berdiri langit dan bumi ini.
65. Alwaajid: Maha kaya, dapat menemukan apa saja yang diinginkan oleh-Nya, maka tidak membutuhkan pada suatu apa pun karena sifat kaya-Nya yang mutlak.
66. Almaajid: Maha Mulia, (sama dengan nomor 49 yang berbeda hanyalah tulisannya. Ejaan sebenarnya nomor 49 Almajiid sedangkan nomor 66 ini Almaajid).
67. Alwaahid: Maha Esa.
68. Ashshamad: Maha Dibutuhkan, yakni selalu menjadi tujuan dan harapan orang di waktu ada hajat keperluannya.
69. Alqaadir: Maha Kuasa.
70. Almuqtadir: Maha Menentukan.
71. Almuqaddim: Maha Mendahulukan, yakni mendahulukan sebagian benda dari yang lainnya dalam perwujudannya, atau dalam kemuliaan, selisih waktu atau tempatnya.
72. Almu’akhkhir: Maha Mengakhirkan atau Membelakangkan.
73. Alawwal: Maha Pertama, Dahulu sekali dari semua yang maujud.
74. Alaakhir: Maha Penghabisan, Kekal terus setelah habisnya segala sesuatu yang maujud.
75. Azhzhaahir: Maha Nyata, yakni menyatakan dan menampakkan wujud-Nya itu dengan bukti-bukti dan tanda-tanda ciptaan-Nya.
76. Albaathin: Maha Tersembunyi, tidak dapat dimaklumi zat-Nya sehingga tidak seorang pun dapat mengenal zat-Nya itu.
77. Alwaalii: Maha Menguasai, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaan-Nya dan menjadi milik-Nya.
78. Almuta’aalii: Maha Suci, terpelihara dari segala kekurangan dan kerendahan.
79. Albar: Maha Dermawan, banyak kebaikan-Nya dan besar kenikmatan yang dilimpahkan-Nya.
80. Attawwaab: Maha Penerima tobat, memberikan pertolongan kepada orang-orang yang bermaksiat untuk melakukan tobat lalu Allah akan menerimanya.
81. Almuntaqim: Maha Penyiksa, kepada orang yang berhak untuk memperoleh siksa-Nya.
82. Al’afuw: Maha Pemaaf, pelebur kesalahan orang yang suka kembali untuk meminta maaf pada-Nya.
83. Arra-uuf: Maha Pengasih, banyak rahmat dan kasih sayang-Nya.
84. Maalikulmulk: Maha Menguasai kerajaan, maka segala perkara yang berlaku di alam semesta, langit, bumi dan sekitarnya serta yang dibaliknya alam semesta itu semuanya sesuai dengan kehendak dan iradat-Nya.
85. Dzuljalaali wal ikraam: Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan. Juga zat yang mempunyai keutamaan dan kesempurnaan, pemberi karunia dan kenikmatan yang amat banyak dan melimpah ruah.
86. Almuqsith: Maha Mengadili, yakni memberikan kemenangan pada orang-orang yang teraniaya dari tindakan orang-orang yang menganiaya dengan keadilan-Nya.
87. Aljaami’: Maha Mengumpulkan, yakni mengumpulkan berbagai hakikat yang telah bercerai-berai dan juga mengumpulkan seluruh umat manusia pada hari pembalasan.
88. Alghaniy: Maha Kaya, maka tidak membutuhkan apa pun dari yang selain zat-Nya sendiri, tetapi yang selain-Nya itu amat membutuhkan kepada-Nya.
89. Almughnii: Maha Pemberi kekayaan yakni memberikan kelebihan yang berupa kekayaan yang berlimpah-limpah kepada siapa saja yang dikehendaki dari golongan hamba-hamba-Nya.
90. Almaani’: Maha Membela atau Maha Menolak, yaitu membela hamba-hamba-Nya yang saleh dan menolak sebab-sebab yang menyebabkan kerusakan.
91. Adldlaar: Maha Pemberi bahaya, yakni dengan menurunkan siksa-siksa-Nya kepada musuh-musuh-Nya.
92. Annaafi’: Maha Pemberi kemanfaatan, yakni merata kebaikan yang dikaruniakan-Nya itu kepada semua hamba dan negeri.
93. Annuur: Maha Bercahaya yakni menonjolkan zat-Nya sendiri dan menampakkan untuk yang selain-Nya dengan menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya.
94. Alhaadi: Maha Pemberi petunjuk, yaitu memberikan jalan yang benar kepada segala sesuatu agar langsung adanya dan terjaga kehidupannya.
95. Albadii’: Maha Pencipta yang baru, sehingga tidak ada contoh dan yang menyamai sebelum keluarnya ciptaan-Nya itu.
96. Albaaqii: Maha Kekal, yakni kekal hidup-Nya untuk selama-lamanya.
97. Alwaarits: Maha Pewaris, yakni kekal setelah musnahnya seluruh makhluk.
98. Arrasyiid: Maha Cendekiawan, yaitu memberi penerangan dan tuntunan pada seluruh hamba-Nya dan yang segala peraturan-Nya itu berjalan menurut ketentuan yang digariskan oleh kebijaksanaan dan kecendikiawanan-Nya.
99. Ashshabuur: Maha Penyabar yang tidak tergesa-gesa memberikan siksaan dan tidak pula cepat-cepat melaksanakan sesuatu sebelum waktunya.


Dalam kitab Addinul Islami disebutkan sebagai berikut: “Nama-nama Allah yang baik-baik (asmaul husna) yang tercantum dalam Alquran yaitu:

1. Nama-nama yang berhubungan dengan zat Allah Taala, yakni:
a. Alwaahid (Maha Esa)
b. Alahad (Maha Esa)
c. Alhaq (Maha Benar)
d. Alqudduus (Maha Suci)
e. Ashshamad (Maha dibutuhkan)
f. Alghaniy (Maha Kaya)
g. Alawwal (Maha Pertama)
h. Alaakhir (Maha Penghabisan).
i. Alqayyuum (Maha Berdiri Sendiri).

2. Nama-nama yang berhubungan dengan penciptaan, yakni:
a. Alkhaalik (Maha Menciptakan)
b. Albaari’ (Maha Pembuat)
c. Almushawwir (Maha Pembentuk)
d. Albadii’ (Maha Pencipta yang baru)

3. Nama-nama yang berhubungan dengan sifat kecintaan dan kerahmatan, selain dari lafal Rab (Tuhan), Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang), yakni:
a. Arra-uuf (Maha Pengasih)
b. Alwaduud (Maha Pencinta)
C. Allathiif (Maha Halus)
d. Alhaliim (Maha Penghiba)
e. Al’afuw (Maha Pemaaf)
f. Asysyakuur (Maha Pembalas, Pemberi karunia)
g. Almukmin (Maha Pemelihara keamanan)
h. Albaar (Maha Dermawan)
i. Rafi’ud darajat (Maha Tinggi derajat-Nya)
j. Arrazzaaq (Maha Pemberi rezeki)
k. Alwahhaab (Maha Pemberi)
l. Alwaasi’ (Maha luas)

4. Nama-nama yang berhubungan dengan keagungan serta kemuliaan Allah Taala yakni:
a. Al’azhiim (Maha Agung)
b. Al’aziiz (Maha Mulia)
C. Al’aliy (Maha Tinggi)
d. Almuta’aalii (Maha Suci)
e. Alqawiy (Maha Kuat)
f. Alqahhaar (Maha Pemaksa)
g. Aljabbaar (Maha Perkasa)
h. Almutakabbir (Maha Megah)
i. Alkabiir (Maha Besar)
j. Alkariim (Maha Pemurah)
k. Alhamiid (Maha Terpuji)
l. Almajiid (Maha Mulia)
m. Almatiin (Maha Kuat)
n. Azhzhaahir (Maha Nyata)
o. Zuljalaali wal ikraam (Maha Memiliki kebesaran dan kemuliaan)

5. Nama-nama yang berhubungan dengan ilmu Allah Taala, yakni:
a. Al’aliim (Maha Mengetahui)
b. Alhakiim (Maha Bijaksana)
C. Assamii’ (Maha Mendengar)
d. Alkhabiir (Maha Waspada)
e. Albashiir (Maha Melihat)
f. Asysyahid (Maha Menyaksikan)
g. Arraqiib (Maha Meneliti)
h. Albaathin (Maha Tersembunyi)
i. Almuhaimin (Maha Menjaga)

6. Nama-nama yang berhubungan dengan kekuasaan Allah serta caranya mengatur segala sesuatu, yakni:
a. Alqaadir (Maha Kuasa)
b. Alwakiil (Maha Memelihara penyerahan)
C. Alwaliy (Maha Melindungi)
d. Alhaafizh (Maha Pemelihara)
e. Almalik (Maha Merajai)
f. Almaalik (Maha Memiliki)
g. Alfattaah (Maha Pembuka)
h. Alhasiib (Maha Penjamin)
i. Almuntaqim (Maha Penyiksa)
j. Almuqiit (Maha Pemberi kecukupan)

7. Ada pula nama-nama yang tidak disebutkan dalam nas Alquran tetapi merupakan sifat-sifat yang erat kaitannya dengan sifat atau perbuatan Allah Taala yang tercantum dalam Alquran, yakni:
a. Alqaabidl (Maha Pencabut)
b. Albaasith (Maha Meluaskan)
C. Arraafi` (Maha Mengangkat)
d. Almu’iz (Maha Pemberi kemuliaan)
e. Almudzil (Maha Pemberi kehinaan)
f. Almujiib (Maha Mengabulkan)
g. Albaa’its (Maha Membangkitkan)
h. Almuhshii (Maha Penghitung)
i. Almubdi’ (Maha Memulai)
j. Almu’iid(Maha Mengulangi)
k. Almuhyii (Maha Menghidupkan)
l. Almumiit (Maha Mematikan)
m. Maalikulmulk (Maha Menguasai kerajaan)
n. Aljaami’ (Maha Mengumpulkan)
o. Almughnii (Maha Pemberi kekayaan)
p. Almu’thii (Maha Pemberi)
q. Almaani’ (Maha Membela, Maha Menolak)
r. Alhaadii (Maha Pemberi Petunjuk)
s. Albaaqii (Maha Kekal)
t. Alwaarits (Maha Pewaris).

8. Ada pula nama-nama Allah Taala yang diambil dari makna atau pengertian nama-nama yang terdapat dalam Alquran, yakni:
a. Annuur (Maha Bercahaya)
b. Ashshabuur (Maha Penyabar)
c. Arrasyiid (Maha Cendekiawan)
d. Almuqsith (Maha Mengadili)
e Alwaalii (Maha Menguasai)
f. Aljaliil (Maha Luhur)
g. Al’adl (Maha Adil)
h. Alkhaafidl (Maha Menjatuhkan)
i. Alwaajid (Maha Kaya)
j. Almuqaddim (Maha Mendahulukan)
k. Almu-akhkhir (Maha Mengakhirkan)
l. Adldlaar (Maha Pemberi bahaya)
m. Annaafi’ (Maha Pemberi kemanfaatan)

Dengan nama-nama di atas dirangkaikan pula sifat-sifat:

a. Takallum (Berfirman) dan
b. Iradat (Berkehendak)

ZAT TUHAN DAN KEMUSTAHILAN MENEMUKANNYA

Hakikat dari zat Ketuhanan tidak mungkin dimakrifati oleh akal pikiran dan sudah pasti tidak akan dapat dicapai betapa keadaan yang sebenarnya atau puncaknya. Sebabnya ialah karena pikiran manusia tidak dapat menjangkau hal tersebut, karena manusia tidak diberi dan tidak ditunjuki pula jalan menemukannya atau wasilah mencapainya. Akal manusia bagaimana cerdik dan pandainya, begitu kuat daya tangkapnya, tetapi tetap terbatas dalam suatu batas yang tertentu dan malah lemah sekali atau belum dapat memakrifati hakikat berbagai benda yang dilihatnya sehari-hari. Manusia sampai saat ini masih belum dapat mengetahui secara benar tentang hakikat jiwa manusia itu sendiri. Bahkan pengetahuan tentang hal jiwa ini hingga sekarang tetap merupakan penyelidikan yang hangat dalam rangkaian persoalan-persoalan yang erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan filsafat.

Manusia itu pun tidak dapat menguraikan hakikat cahaya atau sinar, padahal cahaya atau sinar itu sebenarnya adalah benda yang amat terang dan jelas sekali. Juga belum dapat diketahui hakikat sesuatu benda serta hakikat dari atom yang setiap benda itu pasti tersusun dari himpunan atom-atom itu, padahal semuanya ini adalah yang terdekat sekali hubungannya dengan manusia itu sendiri. Maka dari itu sampai saat sekarang ini pun ilmu pengetahuan modern masih belum mampu menguraikan berbagai hakikat benda yang ada di alam semesta ini. Ringkasnya kata terakhir masih belum dapat dijelaskan, sebagai tanda bahwa hakikat apa yang dicari itu belum terpecahkan dengan memuaskan.

Seorang profesor terkenal bernama Kamyl Flamaryon menulis dalam buku “Kekuatan Alam Yang Belum Dikenal” sebagai berikut: “Kita semua tahu bahwa kita ini berpikir, tetapi apakah sebenarnya makna berpikir itu? Rasanya tidak ada seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan ini. Kita semua mengerti bahwa kita ini berjalan. Tetapi apakah sebenarnya pekerjaan otot itu? Pun tidak seorang dapat mengetahui hakikatnya. Saya menyadari bahwa kehendak saya adalah merupakan suatu kekuatan yang bukan termasuk dalam kebendaan (materi) dan saya menyadari pula bahwa segala sifat khusus diri saya bukan termasuk kebendaan juga. Namun demikian, setiap saya berkehendak mengangkat tangan, saya tahu bahwa kehendak itulah yang menggerakkan benda milikku yakni tangan tadi. Jadi bagaimana hal itu dapat terjadi secara spontan sekali. Apakah kiranya yang menjadi perantara yang berada di tengah-tengah antara kekuatan akal dalam menimbulkan suatu hasil yang mempengaruhi gerakan kebendaan itu? Tentang pertanyaan ini pun belum ada orang yang dapat memberikan jawaban pada saya. Atau secara mudahnya cobalah katakan pada saya dan jawablah ini, ‘Bagaimana urat-urat saraf mata itu dapat memindahkan gambar benda sampai ke dalam akal? Coba jawab pula, ‘Bagaimana akal dapat menerimanya? Lagi pula di mana letak akal tersebut? Bagaimana tabiat pekerjaan otak itu? Cobalah katakan pada saya, hai tuan-tuan (yang dimaksudkan ialah orang-orang yang membantah)..... Tetapi, yah..... cukuplah sudah, cukup..... Mungkin saya dapat bertanya kepada tuan-tuan selama duapuluh tahun, tetapi saya percaya bahwa orang yang paling cerdas di antara tuan-tuan itu pasti tidak dapat mengemukakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang serendah-rendahnya.”

Jika demikian kedudukan akal dalam menghadapi persoalan hakikat jiwa, cahaya dan benda, serta apa yang ada dalam alam semesta ini, baik yang dapat dilihat oleh mata atau pun yang tidak, maka bagaimana akal dapat memakrifati zat Tuhan Yang Maha Menciptakan semuanya itu yang bersifat Maha Luhur keadaan-Nya. Bagaimanakah akal yang lemah itu dapat mencapai zat Tuhan Yang Maha Tinggi itu? Sesungguhnya zat Allah masih jauh lebih besar dari apa yang dapat dicapai oleh akal atau pun yang dapat dijangkau oleh pemikiran-pemikiran. Oleh sebab itu alangkah tepatnya firman Allah swt., “Allah tidak akan dapat dicapai oleh penglihatan-penglihatan dan Dia dapat mencapai penglihatan-penglihatan itu dan Dia adalah Maha Halus dan Waspada.” (Q.S. Al-An’am:103)

PENGAKUAN KAUM INTELEK MODERN TENTANG WUJUD ALLAH

Pembahasan terakhir dalam bab adalah mengenai dalil akal (bukti rasional) perihal wujud Allah Taala dengan mengutip berbagai keterangan yang diucapkan oleh para sarjana kenamaan.

Prof. Harshell, seorang pakar astronomi dari Inggris berkata, “Semakin luas suatu bidang ilmu pengetahuan, semakin bertambah pula bukti-bukti yang memastikan dan lebih mengokohkan perihal adanya Zat yang Maha Menciptakan, juga Maha Dahulu yang tidak ada batas untuk kekuasaan-Nya dan pula tidak akan ada habis-Nya yakni kekal selama-lamanya. Para pakar geologi, fisika, astronomi dan eksakta saling memperkuat dan bantu-membantu. Mereka semua memberikan jaminan yang mantap perihal seruan ilmu pengetahuan yakni seruan pernyataan kemahaagungan Allah yang Maha Esa.”

Dr. Wets seorang pakar kimia bangsa Perancis berkata, “Jika pada suatu ketika aku merasa bahwa kepercayaanku kepada Allah agak kurang mantap dan agak guncang, maka segeralah aku menujukan arah perhatianku kepada akademi ilmu pengetahuan agar keimanan itu kembali kokoh dan kuat sentosa.”

Voltair secara senda gurau berkata, “Mengapa Tuan-tuan masih juga meragukan akan adanya Allah, padahal andaikata Allah tidak ada, rasanya pasti istriku sendiri akan mengkhianati diriku dan mungkin aku diculik oleh pelayanku.”


Diikutip dari www. al-islam.com

Ke-FaQiran Ruhani

Demi Allah, andaikata hatimu mencair seluruhnya, matamu mengalirkan air mata darah karena rindu atau takut kepada-Nya, dan kamu juga diperkenankan tinggal selama dunia ini maujud, maka amalmu takkan dapat membayar kemurahan-Nya yang besar serta tuntunan-Nya dalam keimananmu.
(Kutipan dari Khotbah 52, Nahjul Balaghah, Imam ‘Ali bin Abi Thalib (k.w.))

Adakah ungkapan yang lebih indah tentang kefakiran-esensial ruhani kita, - baik itu adalah hati yang telah mencair, mata yang telah mengalirkan airmata darah karena rindu atau takut kepada-Nya-, dalam membayar kemurahan-Nya dan hidayah- Nya? Bukankah Qur’an Suci mengatakan; “Allah Maha Kaya dan kamu semua miskin (fuqaraa`)”

Ia, wujud murni, yang bebas dari semua penyifatan, terbebaskan dari seluruh kebutuhan. Ia-lah yang Maha Kaya dan Terpuji (al-ghoniyyul-hamiid). Sedangkan esensi seorang manusia, hanyalah fakir-miskin, peminta-minta yang senantiasa meraung - raung kesakitan dalam kehinaan serta bergeletar tangannya mengetuk-ngetuk pintu rahmat-Nya....wa ana ‘abdukadh-dho`iifudz-dzaliilul-haqiirul-miskiinul-mustakiin Bukankah esensi kita hanyalah potensi - potensi yang tenggelam dalam palung ketiadaan mutlak yang senantiasa menanti pelukan Ia, Sang Maha Wujud, sehingga terasalah aliran Kenikmatan dan Keindahan wujud manakala Ia mengecup kita dengan rahmat-Nya?

Diriwayatkan bahwa telah bersabda Rasulullah (S.A.W.): “ Kemiskinan ruhani adalah kebanggaanku” (“al-faqru fakhriy”) Dan apakah kemiskinan? Adalah ke-papa-an, ke-takpunya-an, ke-gelap-an, ke-takcahaya-an, ke-hina-an, ke-terhina-an. Sungguh bagi para faqiir, tak ada apa-pun yang patut dibawa dan ditunjukkan kehadapan -Nya kelak kecuali ke-papa-an dan ke-terhinaan-nya ini! Dan lidah mereka pun senantiasa bergeletaran dengan guman puja dan puji kepada - Nya , Yang Maha Kaya Tiada Tara, Yang Maha Cantik Tiada Terkata, Yang Maha Sempurna dan senantiasa Sendiri dalam ‘Izzah dan Kesempurnaannya. Sungguh Ia benar-benar Maha Kaya lagi Terpuji. Alhamdu lil-laahi robbil-’aalamiin.

Saya teringat sebuah adengan yang mengharukan dalam film kartun “Huchback of Notredame” ketika Esmeralda, - seorang wanita gipsy - terdampar di gereja Notre Dame yang agung. Terdapat sebuah acara doa di gereja besar tersebut. Orang-orang berdoa meminta kemakmuran, meminta harta, meminta kesuksesan dan keagungan. Sedang Esmeralda menyapa Maria lembut, “Aku tak tahu apakah orang se-hina aku ini patut menyapa-mu dan meminta pada Tuhan-mu, dan aku - pun yakin sepenuhnya akan kehinaanku. Maka, aku tak - kan minta apa - apa kepada Tuhan. Tuhan, lakukan apa saja sesuka - mu . lakukan apa saja yang Engkau Kehendaki. Maha Agung Engkau Yang Maha Mewujudkan segala - nya sesempurnanya.”

Sebagian orang beribadah untuk mendapatkan dunia, rizki, kemakmuran dan ketenangan hidup di dalamnya. Sebagian orang beribadah untuk mendapatkan akhirat, bidadari, kekekalan kenikmatan yang ada di dalamnya. Sebagian orang lagi tak menginginkan dunia dan akhirat, namun hanya - lah menginginkan Ridho dan Wajah - Nya. Tapi ada sebagian orang, - yang demikian papa dan papa-, tenggelam dalam kehinaan kemiskinannya. Ia terpaku di sajadah nya, beserta butiran-butiran air mata serta jantung nan berdetak berdegupan. Tak mengucapkan apa pun di depan Hadhirat Tuhan - Nya, melainkan ilaahii qolbii mahjuub, wanafsii ma’yuub, wa’aqli maghluub, wa hawaa`ii ghoolib (Tuhanku hatiku bertabir, jiwaku berkekurangan, akalku terkalahkan dan hawa nafsuku telah memenagkan) ......, dan ia sadar akan ke-miskinan ruhani-nya yang teramat kronis dan fatal hingga mengotori seluruh doa dan tasbihnya....., maka ia ucapkan waf’al bi maa anta ahluh yaa kariim (lakukan apa yang Kau adalah ahlinya Wahai Yang Maha Mulia)..... walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin.

Bukankah Lao Tsu telah berkata

Betapa pun kuatnya seorang laki-laki, bila ia tetap menyadari kelembutan wanita, ia akan puas walau harus menempati kedudukan yang terendah di dunia
Bila ia puas dengan kedudukan yang terendah di dunia selalu menyadari jati dirinya, ia memiliki kemurnian seperti bayi yang baru dilahirkan
Bila seorang laki-laki yang murni, tidak menolak ketidakmurnian lingkungannya, maka ia akan puas tinggal di tempat yang sangat rendah
Bila ia merasa puas tinggal di tempat yang terendah di dunia, dan selalu menyadari jati dirinya, ia akan kembali ke kesederhanaan alam
Bila seorang laki-laki yang menyadari daya tarik status, tapi puas dengan ketidakpedulian, ia akan menjadi lemah bagi segala makhluk di bumi
Berada dalam lembah dunia, ia akan kekal dalam kebaikannya. Ia kembali ke alam Tao.

Akhirul-kalam marilah kita renungi bersama untaian kata berikut ini ; Kegelapan adalah Cahaya dari Zat. Di dalamnya adalah air kehidupan.

wallohu a’lam bish-showwab.

Senin, 24 Desember 2007

ASAL USUL DAN TUJUAN KEHIDUPAN

Untuk apa kita mempelajari Ruh dan Jiwa? Kenapa nggak cuek aja? Toh, dipelajari atau tidak, Ruh dan Jiwa itu sudah ada di dalam tubuh dan terlibat dalam kehidupan kita?
Orang Jawa mengatakan untuk mengetahui: 'sangkan paraning dumadi' alias asal usul dan tujuan kehidupan. Darimanakah kehidupan ini muncul dan akan kemanakah kita sesudah itu? Hal yang sama telah dilakukan oleh para ilmuwan, filsuf, dan orang-orang bijak sepanjang sejarah kemanusiaan.

Inti dari semua itu adalah untuk mengetahui untuk apakah kita ada? Apakah sebenarnya misi utama kehidupan kita? Apakah sekadar 'mengalir' begitu saja? Ataukah, memiliki tujuan tertentu? Jawaban atas pertanyaan itu mulai tergambar lebih jelas ketika kita memasuki wilayah 'dunia Jiwa dan Ruh' ' Hal inilah yang dimaksudkan oleh Allah dalam firman-firman Nya yang baru kita bahas di bagian sebelum ini. Bahwa, semua itu menjadi pelajaran dan mengandung hikmah bagi orang-orang yang mau berpikir dengan akalnya.
Pelajaran apa? Bahwa Allah adalah Sang Maha Pencipta yang Maha Sempurna.
Bahwa, manusia diciptakan Allah dengan mengikuti FitrahNya. Yang dengan Fitrah itu manusia akan mencapai kualitas tertingginya sebagai seorang manusia makhluk paling sempurna dari yang pernah diciptakan Allah.
Bahwa, untuk mencapai kesempurnaan itu seorang manusia harus paham caranya, yaitu dengan mengikuti petunjukNya dalam sebuah agama Fitrah, yang termaktub dalam Al-Qur?an al karim.
Itulah agama yang diciptakan berdasarkan keseimbangan, sebagaimana keseimbangan alam semesta dan keseimbangan diri serta kehidupan manusia. Barangsiapa mengikuti keseimbangan penciptaan itu maka selamatlah kehidupannya. Dan barangsiapa menabrak keseimbangan itu, maka celakalah dia. Dunia dan Akhirat.
Bahwa, manusia memiliki kebebasan melakukan apa saja untuk kebahagiaan dirinya. Ia dihadapkan pada dua pilihan dalam kehidupannya: kebajikan ataukah kejahatan. Kebajikan adalah jalan hidup yang sesuai dengan konsep kesimbangan tersebut. Sedangkan kejahatan adalah segala sesuatu yang menabrak keseimbangan ciptaan Allah di alam semesta.
Kebebasan atas pilihan itu oleh Allah telah dimasukkan ke dalam Jiwa manusia berupa kecenderungan untuk memilih jalan kefasikan atau jalan kebajikan. Caranya ada 2: membersihkan Jiwa atau mengotorinya. Maka berbahagialah orang-orang yang memilih membersihkan Jiwanya, dan menderitalah, orang-orang yang mengotorinya. Orang yang bersih Jiwanya, bakal jernih dalam memandang kehidupan, dan kemudian memperoleh kebahagiaan karena bisa bersikap dan bertindak sesuai dengan Sunnatullah yang berprinsip pada keseimbangan.
Sebaliknya, orang yang hatinya kotor, bagaikan orang buta yang tidak tahu jalan kemana dia harus melangkah. Ia seperti orang buta yang menabrak segala sesuatu di hadapannya. Hidupnya penuh dengan masalah, karena ia tidak tahu bagaimana harus berlaku dalam keseimbangan Sunnatullah itu.
Maka, setiap kita akan menuai hasil perbuatan kita sendiri. Segala kebaikan akan kembali kepada kita, sebagaimana kejahatan yang juga kembali pada diri kita masing-masing.
Allah telah memberikan sebagian Ruh Nya kepada badan kita. Maka, dalam diri kita selalu ada bisikan-bisikan malaikat yang menuntun kita kepada kualitas sifat-sifat Ilahiah. la menuntun kita pada ?Kebajikan Universal?, yang menghasilkan kondisi rahmatan lil 'aalamin (Kebahagiaan Semesta) sebagai tujuan final diciptakan kehidupan.
Allah mengarahkan kita agar tidak terjebak pada kehidupan Duniawi yang mengikat kebahagiaan kita hanya sekadar sekualitas materi. Karena, di dalam diri kita memang selalu ada bisikan Iblis yang mempengaruhi agar kita hanya mengorientasikan kehidupan pada pemenuhan kebutuhan badan semata. Tak peduli pada Keseimbangan Universal, yang mengarah pada ?Kebahagiaan Semesta?.
Bahwa drama kehidupan manusia digelar melewati tahapan-tahapan kehidupan yang bertingkat-tingkat. Awalnya tidak ada, kemudian menjadi ada, dan akhirnya tidak ada kembali. Asalnya dari Allah, kemudian diciptakan oleh Allah, dan akhirnya kembali lagi kepada Allah. Begitulah drama kehidupan seluruh makhluk di alam semesta ini. Tak terkecuali manusia.
Manusia bukanlah makhluk abadi. Manusia bukanlah makhluk yang ada selama-lamanya. Sebab, manusia dulu memang pernah tidak ada. Dan suatu ketika nanti bakal 'lenyap' kembali.
Memang banyak di antara kita yang tidak rela bakal lenyap. Mereka ingin hidup kekal, selama-lamanya. Tidak pernah hilang lagi. Lho, memangnya kita ini siapa?
Kok ingin menyamai Dzat Allah Yang Maha Kekal?
Dalam diskusi yang sering saya hadiri seringkali menemui pendapat-pendapat seperti itu. Banyak di antara kita yang tidak rela alam akhirat bakal lenyap.
Sebab, kalau Akhirat lenyap, lantas (kita) manusia berada dimana?' Jadi, pada intinya, sebenarnya mereka bukan tidak rela Akhirat bakal lenyap, melainkan 'tidak rela dirinya lenyap?!
Manusia, pada hakikatnya, ingin hidup abadi, selama-lamanya. Kenapa demikian?
Karena Ruh yang bersemayam di dalam diri kita memang mengimbaskan sifat-sifat Ketuhanan. Di antaranya, ingin Hidup Terus, ingin Berkuasa Terus, Berkehendak sebebas-bebasnya terus, dan segala macam sifat keabadian lainnya.
Kita lupa bahwa kita bukan Tuhan. Kita hanyalah manusia biasa yang diciptakanNya, berupa perpaduan badan material, Jiwa energial dan Ruh. Itu pun, Ruh yang ditiupkan kepada kita hanyalah sebagian saja dari Ruh Nya. Maka, jangan berharap kita akan menyamai Allah, Kita ada karena Ruh masih bersemayam dalam diri kita. Begitu Ruh itu dicabut kembali oleh Allah, maka eksistensi kita sebagai manusia ikut lenyap.
Jangankan, pada waktu Ruh dicabut, saat kita tidur saja kita sudah tidak merasakan apa-apa. Eksistensi kita sudah hilang, seiring kesadaran yang juga hilang. (Masihkah anda merasa ada ketika anda tertidur lelap?!!)
Bayangkan kalau seandainya kita tidak bangun lagi, maka kita sebenarnya sudah ?lenyap?. Kita tidak lagi merasakan apa-apa. Eksistensi kehidupan kita sudah tidak ada artinya lagi. Bagaimana menurut Anda?
Itulah yang telah kita diskusikan di depan, bahwa Jiwa dan Ruh kita ada dalam genggaman Allah. DIA memegang Jiwa seseorang pada saat matinya dan pada saat tidurnya. Lantas, Allah mengembalikan Jiwa itu kepada badan yang masih diizinkanNya untuk bangun kembali dari tidurnya.
Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita agar kita berdoa menjelang tidur dan sesudah tidur, seperti sedang mengalami kematian. Sebab, antara tidur dan mati hampir tidak ada bedanya.
'Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut' (Dengan Nama Mu ya Allah aku hidup, dan dengan Nama Mu aku mati). Begitulah beliau mengajarkan kepada kita untuk berdoa menjelang tidur. Karena kita tidak tahu apakah kita bisa bangun kembali ataukah tidak. Kita berserah diri saja kepada Allah yang menguasai Jiwa kita.
Dan ketika terbangun dari tidur, Rasulullah saw mengajarkan untuk membaca:
'Alhamdulillaahilladzii ahyana ba?da maa amaatana wa ilaihi nusyur' (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali sesudah kematianku, dan kepadaNya lah aku kembali).
Begitu tipisnya antara hidup dan mati. Setiap hari kita ditidurkan oleh Allah beberapa jam. Saat itulah kita telah mencicipi kematian. Itulah saat-saat Jiwa kita ditahan oleh Allah. Kita tidak bisa merasakan, mengendalikan, atau apalagi melawan.
Ketika kantuk datang menyerang, itulah saat-saat menjelang 'Kematian Sementara' kita. Cobalah rasakan, pada saat-saat itulah Allah mulai berangsur-angsur menahan Jiwa kita entah akan dikembalikan lagi ataukah ditahan seterusnya.
Setiap hari, kita telah 'berlatih' untuk menemui kematian yang sesungguhnya. Tapi seringkali, kita merasa betapa kematian kita masih begitu jauhnya. Padahal, kematian demikian dekat dengan kehidupan kita. Karena, kehidupan dan kematian selalu bersama-sama, di mana pun mereka berada. Dan bisa berganti posisi kapan pun Allah mau.
Kematian hanyalah berpisahnya badan dengan Jiwa & Ruh untuk sementara waktu. Tapi bukan untuk 1-2 jam, melainkan berjuta tahun sampai kita bangun dari kematian itu di Hari Kebangkitan. Kejadiannya persis seperti saat kita terbangun dari tidur kita sehari-hari.
QS. Yasin (36) : 52
Mereka berkata: "Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya).
Akankah kita termasuk orang-orang yang menyesal saat 'dibangunkan' kembali kelak? Ataukah kita temasuk hamba-hamba yang berbahagia? Semua itu bergantung kepada bagaimana saat-saat sebelum kita berangkat tidur itu.
Kalau kita termasuk orang-orang yang sudah terlatih untuk memasuki tidur dengan baik, maka Insya Allah kita akan bangun kembali dalam keadaan yang baik dan segar. Tapi kalau kita memasuki saat-saat tidur itu dengan penuh masalah yang membelit kehidupan kita, maka sungguh tidur kita akan menjadi 'Mimpi Buruk' bagi kita. Dan tiba-tiba kita terbangun dengan kondisi yang sakit dan menyesakkan dada.
Dan, yang lebih menakutkan, mimpi buruk itu ternyata menjadi kenyataan saat kita terbangun dari 'tidur panjang' itu. Jiwa kita yang terlanjur kotor selama kehidupan sebelum ?tidur panjang?, tidak sempat lagi kita bersihkan. Dan ternyata, harus dibersihkan di dalam Api yang meyala-nyala di Neraka Jahannam Berbeda dengan mereka yang telah melatih dan membiasakan dirinya untuk hidup bersih penuh kedamaian dan cinta kasih. ?Tidur? mereka sungguh adalah tidur yang nikmat. Tidurnya para Jiwa yang Penuh Kedamaian - Nafs al Muthmainnah.
Mereka bermimpi indah sepanjang tidurnya yang pulas. Dan di 'Esok Harinya', mereka terbangun dalam kebahagiaan Jiwa yang Fitri, di surga Jannatun Nalm...
(QS Fajr 27 - 30)
Hai Jiwa yang tenang Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba Ku, dan masuklah ke dalam surga Ku.

Minggu, 23 Desember 2007

RUH DAN JIWA

Manusia telah diciptakan oleh Allah SWT tersusun dari dua unsur, unsur ardli dan unsur samawi. Unsur ardli membentuk jasad sebagai bentuk fisik manusia yang terbuat dari saripati tanah. Seandainya kita membuat penelitian dengan cara mengambil segenggam tanah kemudian diuraikan secara kimiawi, kemudian kitapunmengambil sepotong tubuh manusia yang diursaikan juga secara kimiawi, maka unsur-unsur yang ada adalah tubuh manusia tersusun dari unsur-unsur yang ada pada tanah.

Para sarjana kimiawi menyebutkan beberapa unsur yang ada pada tubuh manusia itu diantaranya : karbon yang cukup membuat 9000 buah tangkai pena, fosfor yang cukup membuat 2000 kepala tangkai korek api, serta zat-zat lain seperti, besi, kapur, posatium, garam, magnesium, gula dan belerang. Sedangkan pada unsur samawi. Allah SWT telah meniupkan ruh kepada jasad yang sudah dibentuk-Nya, Allah SWT berifirman ddalam Surat Sajdah ayat 9 : "Kemudian Dia menyempurnakan ciptaan-Nya , setelah ditupkannya ruh kedalamnya dan setelah itu Allah menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati".

Dengan ruh inilah Allah SWT telah memuliakan manusia, karena dengan unsur inilah manusia dapat hidup, bisa mengerti, mengingat, berfikir, mengetahui, berkehendak, memilih, mencintai, dan sebagainya. Ayat diataspunmengisyaratkan kepada kita, telinga bisa berfungsi sebagai pendengaran, matra bisa berfungsi sebagai penglihatan dan hati bisa berfungsi sebagai alat untuk memahami apabila ruhitu telah ditiupkanoleh Allah.

Seandainya manusia mati,ruhnya dicabut oleh Allah SWT, maka mata, telinga dan hati tidak ada artinya, manusia tidak lagi dapat bergerak, merasakan sesuatu, berkehendak, berfikir, memililih, mencintai dan sebagainya.

Begitu pentingnya ruh bagi jasad kita, dan begitu berpengaruhnya terhadap sikap perbuatan kita, pantas saja kalau ada sebagaian dari manusia ingin mengunghkapkan misteri ruh ini. Tepatnya di tahun 1882 dibentuklah Persatuan PembahasanRuh di Inggris. Mereka bekerja keras dengan penuh ketelitian, ketekunan dan penuh kesungguhan mengatakan penelitian-penelitian untuk mengungkapkan misteri ini , akan tetapi berakhir dengan ketidakpuasan. Pantas saja dalamAl-Qur’an Surat Al-Isra ayat 85 Allah SWT menegaskan bahwa ruh itu urusan-Ku dan menuasia tidak diberikan ilmu tentangnya kecuali sedikit saja.

Ayat ini menurut riwayat Bukhari yang bersumber dari ibnu Mas’ud ternyata berkaitan dengan segolongan dari kaum Yahudi yang ingin tahu tentang ruh. Ketika itu Rasulullah sedang berjalan-jalan di Madinah beserta Ibnu Mas’ud, seorang dari mereka berkata: "Mari kita bertanya kepadanya". Setelah berjumpza , mereka bertanya : " Cobalah terangkan kepada kami tentang ruh", Rasulullah terdiam sejenak, terlihat beliau sedang mendapatkan wahyu dari Allah. Kemudian beliau bersabda: Ar-Ruh min amri Rabbi wamaa utitum minal ilmi illa qalila", ruh ituurusan Allah dan Dia hanya sedikit memberikan ilmunya kepada kita.

Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an, ternyata ruh dan jiwa itu mempunyai pengertian yang sama. Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Az Zumar ayat 42 : "Allah yang mengambil jiwa (ruh) manusia ketika wafatnya dan ketika tidurnya sebelum wafat, lalu ditahannya jiwa (ruh) yang sudah wafat, serta dikembalikan jiwa (ruh) yang lain ( yang sedang tidur) sampai waktu yang ditentukan". Dan Al Qur’an surat Al-An’am ayat93 : "Alangkah dasyatnya apabila engkau melihat orang-orang yang menganiaya itu sedang merasakan tekanan sakratul maut dan malaikat telah mengembangkan tangannya sambil berkata : Lepaskanlah jiwamu (ruhmu)".

Kata nafs yang bentuk jama’nya anfus menurut dua ayat diatas sama pengertiannya dengan ruh, jiwa, sukma atau nyawa. Al-Qur’an mengungkapkan lebih jauh lagi tentang sifat-sifat dari jiwa ini, ada yang disebut nafs amarah bissu’ ( jiwa yang selalu mengajak kepada keburuhkan), nafs lawwamah ( jiwa yang suka mencela dirinya sendiri) dan nafs muthmainnah ( Jiwa yang tenang). Nafs ini membentuk sifat dan tabiat manusia. Ada manusia yang tabiatnya buruk ( berakhlak tercela, berbudi kasar dll sb), hal ini disebabkan oleh nafsu yang telah mengalahkan kesucian yang murni dan masih asli tetapi ada juga orang yang berbudi luhur ( berakhlak mulia, berbuat kebenaran, keadilan, keindahan dan kesempurnaan perilaku dlsb), hal ini karena ia telahmampu mengekang syahwatnya serta mengatasi segala macam kekurangan dankerendahan jiwanya dan iapun sudah sampai pada tingkat yang luhur dalam persoalan penjagaan jiwanya, ia dapat memerangi hawa nafsunya dan bersih dari pengaruh itu.

Nafsu pada tabiat taslinya selalu mengajak kepada keburukan, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'’n surat yusuf ayat 53 : "Sesungguhnya nafsu itu suka sekali menyuruh kepada keburukan".

Akan tetapi nafsu itupun dapat diarahkan untuk berbuat kebaikan dan mencegah keburukan apabila nafsu itu diberi pelajaran dan pengajaran yang baik serta dididik dengan keagamaan serta diajak untuk meneliti berbagai percontohan dan suri teladan yang baik yang ada di sekitarnya. Pantas saja kalau Allah SWT berfirman: " Dan jiwa dan apa yang oleh Allah dijadikan untuk menyempurnakannya. Maka Ia mengilhamkan kepadanya yang salah dan yang taqwa (benar), maka sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dan sungguh merugilah yang mengotori jiwanya". (QS.As-Syams : 7-10)

Ayat-ayat diatas menyatakan bahwa dalam penciptaannya (jiwa) itu Allah telah mengilhamkan jalan kefasikan dan ketaqwaan kepadanya. Beruntunglah bagi orang yang mau menjaga dan membina untuk kesucian jiwanya dan rugilah orang yang tidak mau menjaga dan membina jiwanya, membiarkan dan mengotorinya. Jalan untuk menjaga dan membina jiwa banyak tantangan dan godaan, sedangkan jalan untuk mengotorinyaq mudah dan tanpa perjuangan.

Menjaga dan membina jiwa hanya dapat dengan tunduk kepada semua aturan Allah, beribadah kepada-Nya, selalu ingat dan bertaqarrub kepada-Nya, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan itulah jiwa terbina membentuk pribadi yang teguh memegang kebenaran dan keadilan untuk mencapai kesempurnaan hidup, kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak, Insya Allah. Jiwa inilah yang akan mencapai ketenangan dan ketentraman dan jiwa inilah yang akan mendapatkan penghormatan yang tinggi dan agung mendapatkan panggilan yang penuh rindu dan kasih sayang-Nya :"Wahai jiwa yang penuh ketenangan, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh kesenangan dankeridhlaan-Ku, masuklah menjadi hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku"

Oleh: Dudi Muhammad Lutpy